Sabtu, 07 Mei 2011

Bangsa Mie Instant


Pada saat tulisan ini dibuat penulis baru saja datang di tempat kerja, selama perjalanan dari rumah hingga ke tempat kerja, banyak hal yang dilihat oleh penulis dan hal ini terus menggoda pikiran hingga tangan rasanya gatal-gatal untuk menuangkan rasa penasaran ini dalam bentuk tulisan. Kepada rekan-rekan pembaca, penulis mohon maaf apabila tema kali ini tidak berhubungan dengan dunia air minum, tetapi mengenai fenomena sosial yang berada di tengah-tengah kita.

Gedung-gedung tinggi tampak di kejauhan
Pagi hari tadi saat penulis sedang berkendaraan kebetulan didepan ada angkot dimana terlihat ada 2  anak sekolah, satu anak SMA dan satu lagi anak SMP hendak berangkat ke sekolah, mereka tampak asyik sedang menggunakan hp Blackberry, sibuk sms dan telpon. Penulis berpikir dua anak sekolah ini jelas mereka bukan berasal dari golongan atas tetapi mereka sudah menggunakan Blackberry, darimana mereka dapatkan itu..? Pemberian orang ? Hadiah ? atau hasil nodong orang tuanya. Penulis berpikiran positif bahwa itu adalah pemberian orang tuanya, dengan maksud baik supaya bisa berkomunikasi dengan mereka. Penulis jadi ingat dengan anak pertama penulis yang masih klas 6 SD, diapun sudah meminta dibelikan Blackberry, saya bilang dengan anak saya, “Untuk apa kamu Blackberry, kenapa harus BB, apa yg sekarang belum cukup ? (penulis berikan dia hp esia jadul, dengan maksud fungsi komunikasi baik sms maupun telpon sudah bisa). Jawab anak saya, “ Malu Yah.. dilihat sama teman-teman, dikatain teman-teman, jadulah...  kunolah...  nggak bisa dipake FB-lah...”. Beruntung setelah diberi pengertian oleh penulis dan ibunya, dia mau mengerti dan tanpa malu memakai hp itu lagi. Ternyata anak SD sekarangpun sudah banyak yang memakai barang-barang canggih dan mahal. Ahh.. penulis merasa seolah-olah ketinggalan zaman.

Kemudian tibalah penulis di jalan yang macet. Penulis berpikir macet kok tiap hari yah... kecuali hari libur. Hampir disetiap sudut jalan kota ini mengalami kemacetan.. banyak banget kendaraan di kota ini. Kendaraannyapun bagus-bagus , keluaran terbaru.. sudah jarang terlihat mobil-mobil carry atau colt diesel yang pada eranya menjadi favorit, mobil-mobil tua masih ada satu dua yang jalan, tetapi mobil-mobil tersebut sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan dengan perawatan yang tidak murah menjadi barang antik, jadilah barang yang mahal harganya.

Sementara ironis sekali kalau kalau kita melihat bis angkutan umum yang ada. Kesan kumuh, apek, berhimpitan dan asap knalpot bergulung-gulung. Ada memang yang agak bagusan, itupun bisa dihitung dengan jari. Kereta api yang penuh sesak dengan manusia hingga naik ke atap dan bergelantungan dipintu. Jalan raya yang penuh sesak diperparah dengan  kondisi jalan yang parah, berlubang sehingga bertambah macet, belum lagi kalau hujan. Saluran air yang mampat akibat sampah yang menyumbat atau kurangnya pemeliharaan dari instansi terkait. Mau jalan yang agak bagusan ya.. pilih jalan tol, jalan bebas hambatan tetapi bukan berarti bebas macet. Tetapi dengan catatan untuk bisa lewat harus bayar jalan tol. Artinya tidak semua orang bisa melewati jalan tersebut. Hanya orang yang mampu membayarlah yang bisa melewatinya, yang bikin bertanya-tanya lagi, jalan tol ada yang sudah lama di bangun, seperti Jagorawi, tetapi kenapa belum dibebaskan padahal masa konsesinya sudah lewat. Ada yang bilang alasannya nanti uang dari mana yang untuk memlihara kondisi jalan tersebut. Lha... uang hasil pajak dikemanain..? masih kurang yah sehingga harus memungut dari rakyat.. padahal itukan fasilitas umum yang wajib disediakan oleh negara bagi kemakmuran rakyatnya..

Kawasan kumuh di Cilincing Jakarta Utara
Kemudian perjalanan penulis berlanjut pada daerah-daerah yang mempunyai gedung tinggi, kawasan ekslusif, daerah supermahal dan hanya orang-orang yang berkantong tebal saja yang bisa berkantor di sana, tetapi kalau kita sedikit keluar dari jalan penuh gemerlap tersebut, dibalik gedung-gedung nan megah tersebut tampaklah potret kemiskinan yang sangat parah. Rumah-rumah tidak layak huni berderet dipinggir kali dan rel kereta api. Jangan tanya bagaimana kondisi lingkungan mereka kumuh, kusam, wajah-wajah keras jelas terpampang. Tawuran antar kampung jadi cerita keseharian mereka. Dari kedua kondisi tersebut memiliki kesamaan sifat yaitu sama-sama tidak peduli dengan sesamanya. Cuek, bodoh amat, sebodo teuing kalau orang sunda bilang. Semua asyik dan tenggelam dengan urusan masing-masing.

Pikiran penulis terus menerawang nakal. Penulis jadi teringat cerita seorang teman yang pernah pergi ke Eropa, tepatnya di Belanda. Teman tersebut bercerita bahwa supermarket yang paling bagus disana kalau dibanding dengan yang ada di Indonesia maka hanya sekelas Hero. Tidak ada yang sekelas Mal Pondok Indah, Taman Anggrek atau Mal Of Indonesia (MOI). Kemudian penulis juga teringat ketika berkesempatan berkunjung ke Singapore dan Kuala Lumpur, mal-mal dan tempat hiburan disana tidak lebih hebat dari yang ada di Indonesia bahkan mungkin lebih bagus disini. Maka aneh kalau kemudian banyak masyarakat Indonesia yang terpukau dan pergi berbelanja ke sana hanya untuk sekedar beli dompet. Padahal tidak sedikit barang-barang tersebut berasal dari Indonesia, bahkan yang jual sekalipun bisa jadi orang Indonesia yang awalnya menjadi TKI disana. Kemudian bandara-bandara di Eropa, keadaannya ternyata lebih megah di Jakarta daripada di sana.
Tetapi jangan tanya tentang fasilitas umum mereka, rakyat di Belanda benar-benar sangat dimanjakan oleh pemerintah mereka. Jumlah moda transportasi lebih banyak baik dari sisi varitas maupun dari sisi jumlah. Sehingga tidak akan mungkin ada penumpang yang bersesakan dan bergelantungan seperti Jabodetabek di Jakarta. Di Singapore dan di Kuala Lumpur fasumnya tidak akan membuat orang menjadi kapok untuk naik angkutan umum. Kondisi yang nyaman dan aman dengan jam tiba dan datang yang tepat. Sehingga hidup disana walaupun mahal tetapi menjadi lebih efisien dan mudah.

Kondisi jalan di sekitar Rawa Mangun Jakarta Timur
Penulis pernah membaca tentang artikel di sebuah media on-line betapa terkagum-kagumnya turis-turis yang baru datang dan baru pernah ke Indonesia. Mereka kagum akan keindahannya. Mereka seperti baru terbuka matanya ketika melihat bahwa kondisi di Jakarta sangat megah dan ramai, banyak gedung tinggi. Rupanya cerita tentang Indonesia tertutup oleh gencarnya promosi yang dilakukan oleh negara tetangga. Mestinya kita bangga, tetapi kebanggaan itu akan segera sirna ketika kekaguman mereka tergantikan oleh betapa kecewanya mereka akan fasilitas publik yang ada. Beruntung mereka bepergian dengan tour guide dengan transportasi memadahi, sehingga bisa ditunjukan pada lokasi-lokasi yang nyaman dan indah.

Dari sekian banyak potret sosial yang ditampilkan oleh penulis diatas, ada dua kondisi kontradiktif  yang sangat bertentangan yang terjadi ditengah-tengah ki ta. Apa yang salah dengan masyarakat kita. Sebagai orang awam rasanya sulit untuk menjelaskan kondisi ini. Sepertinya perlu pakar seperti Bapak Imam B. Prasodjo untuk membantu menjelaskan fenomena ini. Sebagai orang awam hanya bisa melihat dan merasakan dengan perasaan kesal dan penuh pertanyaan dibenak penulis.

Di lingkungan kita ada dua wajah, wajah kemakmuran dengan paham hedonismenya yang serba materialistis dan wajah kesengsaraan yang dialami oleh masyarakat marginal. Ada satu kata yang rasanya tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Konsumtif... ya.. kata itu tepat rasanya. Masyarakat kita sangat suka akan kemewahan walaupun hal tersebut tidak banyak gunanya, suka dengan segala hal yang berlebihan, cenderung lebay malah...

Indonesia adalah pengguna Blackberry terbesar ke-3 di dunia setelah Amerika Serikat dan Canada, bahkan diprediksi menjadi pengguna terbesar di dunia melebihi ke-2 negara besar tersebut, tetapi pengguna kartu kredit di Indonesia secara gafik juga terus mengalami peningkatan. Masyarakat Indonesia tidak suka menabung tetapi lebih suka berhutang. Sayangnya hutang tersebut tidak dipakai untuk meningkatkan investasi sehingga mendapat pendapatan yang lebih tetapi untuk keperluan sekunder yang tidak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan taraf hidup.

Kondisi jembatan yang sudah tua (sudah tidak digunakan) di Kali Serayu
Apa yang terjadi pada masyarakat juga terjadi pada penyelenggara negara ini. Baik pusat maupun daerah. Mereka lebih suka membangun hal-hal yang bersifat monumental dengan biaya yang besar. Gedung-gedung tinggi nan megah, mal-mal besar, kantor-kantor pemerintah yang mewah. Sementara bangunan-bangunan infrastruktur yang menunjang perekonomian menjadi program kesekian. Jalan raya, moda transportasi, bandara, pelabuhan, fasilitas air bersih, dam, sekolah, rumah sakit, terminal, stasiun kerata api berikut tracknya dan lain-lain menjadi program ke sekian. Mereka lebih suka mendahulukan program pengadaan mobil mewah pejabat, studi banding ke luar negeri yang tidak jelas outputnya.  Rumah dinas pejabat dan masalah yang sedang hangat dibicarakan saat ini yaitu pembangunan gedung baru DPR yang direncanakan menghabiskan dana hingga 1,2 T. Kalaupun ada pembangunan fasum hanya sekedar untuk pelengkap saja, bahkan ada yang bersifat politis contohnya seperti pembangunan jembatan Suramadu dan 7 jembatan yang menghubungkan pulau-pulau kecil di Batam Kepri. Harapan dari dibangunnya fasum tersebut adalah dapat meningkatkan taraf hidup pada daerah tersebut tetapi ternyata setelah sekian lama di bangun tidak ada kemajuan yang signifikan pada kedua daerah tersebut. Padahal nilai bangunan tersebut sangat mahal dan biaya atas waktu dan uang menjadi terbuang.

Kita mestinya mencontoh negara-negara di Eropa atau di Cina yang lebih dahulu membangun fasilitas publik daripada bangunan-bangunan strukturnya. Jalan, jembatan, terowongan, subway dan lain sebagainya dibangun dengan harapan investasi akan masuk dan otomatis ekonomi akan berjalan tumbuh dengan pesat.

Fasilitas publik jelas adalah domain pemerintah, perusahaan privat bisa dilibatkan tetapi kebanyakan akan membutuhkan retribusi yang sangat mahal dan dibebankan kepada masyarakat, padahal masyarakat sudah membayar pajak.

Fasum untuk masyarakat bersosialisasi satu sama lain
Hal tersebut tentunya terkait dengan model perencanaan di negara kita yang lemah, terlalu banyak kepentingan dan lebih bersifat politis. Semestinya kepentingan nomer satu adalah kepentingan masyarakat umum. Dari sistem desain perencanaan di negara kita faktor kemanannya (safety factor) lebih besar apabila dibanding dengan negara lain. Indonesia sekitar 1,5 sementara di negara-negara Eropa, Jepang, AS atau China berkisar 1,1 s/d 1,25. Bahkan bisa jadi lebih untuk mengakomodir berbagai pesanan dan kepentingan. Hal ini bukan berarti karena perencana-perencana kita kalah atau kurang baik dibanding negara-negara asing tersebut, tetapi lebih karena tahu bahwa dalam pelaksanaannya, pembangunan proyek-proyek di Indonesia terlalu banyak penyimpangan sementara dari sisi pengawasan sangat lemah.

Ada apa dengan bangsa dan masyarakat kita. Dimulai dari masyarakat mie instan akan melahirkan pejabat mie instant dan tentu pemimpin mie instant. Kita tahu mie instant adalah makanan cepat saji yang sangat digemari di Indonesia, penyajiannya cepat, tersedia dimana-mana, murah tapi tidak menyehatkan dan bisa mengakibatkan penyakit apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak. Sehingga rasanya tepat perumpamaan bahwa bangsa kita menjadi bangsa mie instant.

Tulisan ini menjadi sarana refleksi dan instrospeksi bagi penulis dan berharap pembaca dapat memahami dan menyetujuinya, sehingga kita semua dapat berbuat lebih baik,  lebih bermanfaat bagi kita, masyarakat dan bangsa. Mewah, megah belum tentu tepat untuk mengatasi segala permasalahan kepentingan umum, tetapi apa yang paling dibutuhkan kita, masyarakat dan bangsa saat inilah yang mestinya menjadi prioritas.  

Akhirnya sampailah penulis hingga ke tempat kerja, dengan setumpuk pertanyaan rasa penasaran yang menggunung. Salam....

2 komentar:

  1. Pak Yono.. sampeyan pinter motret sosial ternyata... hahaha.. sangat lengkap dan "ngomong banget"
    Selamat.....

    BalasHapus