Kamis, 11 November 2010

Studi Kelayakan Sistem Penyediaan Air Minum

"Di muat di Majalah Air Minum edisi November 2010"


Industri air minum adalah suatu bisnis yang membutuhkan investasi dalam skala besar sehingga untuk mewujudkannya diperlukan suatu perencanaan yang terstruktur dengan baik dan benar. Sebagai perencanaan awal maka harus dilakukan studi kelayakan (feasibility study).

Fungsi studi kelayakan dalam bisnis air minum adalah untuk melihat berapa besar investasi yang harus ditanamkan dan sejauh mana invetasi tersebut mendatangkan keuntungan. Studi kelayakan dalam bidang air bersih ini biasanya juga merupakan  bagian dari master plan suatu pengembangan daerah atau kota.

Studi kelayakan ini menghasilkan 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama proyek tersebut layak untuk ditindak lanjuti, kemungkinan kedua tidak layak untuk diteruskan sehingga proyek tersebut gagal atau ditunda dengan terlebih dahulu memperbaiki hal-hal yang dianggap tidak layak tersebut.     

Hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan dibahas dalam studi kelayakan antara lain :
      1. Periode perencanaan.
    Jangka waktu 10-20 tahun menjadi pedoman dalam membuat suatu perencanaan sebuah system penyediaan air minum termasuk dalam adalah kapasitas bangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA). Pembangunan suatu unit IPA harus dilakukan secara bertahap. Hal ini untuk menghindari adanya pemborosan, disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan air minum. Jangka waktu pembangunan dituangkan dalam satu bentuk master plan. Kemudian terbagi menjadi beberapa tahapan dalam bentuk outline plan yang merupakan perhitungan yang lebih detail dengan waktu yang lebih singkat.
Sebagai contoh Pembangunan WTP DAM Duriangkang Batam di proyeksikan selama 15 tahun periode perencanaan. Dimulai pada tahun 2000 dengan kapasitas 500 ltr/detik selanjutnya phase II tahun 2002, phase III tahun 2004, sekarang sedang berjalan phase IV dengan kapasitas yang sama setiap phasenya dan masih tersisa 2 x 500 ltr/dtk dalam periode perencanaannya. Hal tersebut untuk mengakomodir petambahan pelanggan sekitar + 18.000 setiap tahunnya.

     2.   Daerah aliran air minum.
     Dalam perencanaan system penyediaan air minum harus dibatasi wilayah yang masuk dalam sistem perencanaan tersebut. Tentunya dengan memperhatikan berapa besar air yang diterima oleh pelanggan, termasuk potensi pengembangan atau perluasan wilayah di masa yang akan datang, termasuk penambahan jumlah satuan sambungan rumah (SR) di wilayah tersebut dan sekitarnya.

     3.  Pertambahan jumlah penduduk pada masa datang.
    Banyak model-model atau perumusan dalam ilmu statistic untuk memprediksi jumlah penduduk dimasa yang akan datang. Salah satu contoh perumusan dengan metode aritmatik.

Pn = Po ( 1 +  r n )

Dimana:               Pn           = Jumlah penduduk tahun n
      Po           = Jumlah penduduk tahun awal
      R             = Angka pertumbuhan penduduk
      N             = Jangka waktu dalam tahun

Untuk metode ini data penduduk dilakukan dengan regresi linear sebagai berikut: 

 
4.   Kebutuhan air minum maximum per penduduk
      Dalam setiap daerah mempunyai pola kebutuhan air yang tidak sama. Para ahli harus melakukan estimasi dan menentukan berapa kebutuhan air maximum per orang dalam wilayah rencana. Dalam suatu sistem yang baru maka data diambil berdasar estimasi yang akurat dari pembagian komunitas yang mempunyai latar belakang, karakteristik dan trend yang sama dalam pertumbuhannya. Pada suatu sistem yang sudah berjalan dan akan dikembangkan maka data yang terbaik dan akurat adalah dengan menampilkan trend dari sistem penyediaan air minum yang sudah ada.

P   5.   Pemilihan sumber air baku.
      Sumber air bisa berasal darimana saja, bisa air permukaan atau air bawah tanah. Untuk air bawah tanah biasanya hanya untuk kapasitas kecil. Pembahasan air baku ini sudah pernah dibahas oleh penulis pada tulisan sebelumnya yaitu Sumber air baku dan problematikanya.

      6.   Dimensi bangunan Instalasi Pengolahan Air Minum.
      Kebutuhan air pada masa yang akan datang pada suatu area layanan harus dimasukan sebagai dasar salah satu ketentuan dalam menghitung ukuran dimensi bangunan IPA dan luas lahan IPA. Ketentuan tambahan tersebut akan berdampak pada kemampuan supply air dan effektivitas biaya pada penyediaan air dari satu plant besar dibanding dengan 2 atau 3 plant ukuran sedang atau kecil pada lokasi dan elevasi yang berbeda. Sabagai dasar perhitungan dalam menghitung luas lahan sebuah plant konvensional menggunakan rumus :  A  ≥ Q0,6
   Dimana :
                   A = dalam hektar
                               Q = kapasitas debit air dalam mgd
                                      (1 m3/dt = 22,8 mgd)

     7.  Ketersediaan lahan bangunan IPA.
    Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perhitungan sebuah IPA antara lain :
-          jarak bangunan dengan Intake
-          tata letak unit-unit bangunan IPA
-          dampak IPA terhadap lingkungan
-          metode pendistribusian air ( gravitasi atau menggunakan pompa)
-          kondisi geografi (kontur) lahan
-          informasi yang tersedia tentang study bahan
-          ketersediaan tenaga listrik
-          akses jalan menuju jalur utama
-          sejarah masa lalu, apakah pernah terjadi bencana seperti banjir atau gempa bumi
-          biaya konstruksi
-          biaya pemeliharaan
-          situasi dan kondisi keamanan sekitar bangunan
-          kesiapan lahan apabila ada pengembangan bangunan pada masa yang akan datang.
  
             8.    Data curah hujan.
Gb. Siklus hidrologi (sumber dari http://www3.gov.ab.ca)

Curah hujan menjadi sangat penting karena dengan data yang ada kita dapat memprediksikan berapa jumlah debit air yang bisa terbarukan dengan adanya siklus ini. Daerah yang mempunyai curah hujan yang tinggi tentunya akan lebih diuntungkan dengan daerah yang curah hujannya rendah. Curah hujan dalam suatu daerah biasanya mempunyai satu pola yang sama dari satu waktu ke waktu, terkecuali ada situasi ekstrim diluar kebiasaan yang jarang terjadi seperti kejadian El Nino dan La Nina. Biasanya El Nino terjadi rata-rata dalam 4 tahun sekali sementara la Nina dalam 6 tahun sekali. Sehingga dibutuhkan data curah hujan setidaknya selama 10 tahun terakhir sehingga akan didapat trend yang digunakan untuk memprediksi curah hujan pada kemudian hari.

      9.    Daerah tangkapan air (catchment area)
       Luasnya daerah tangkapan air juga sangat diperlukan untuk menampung debit air hujan yang turun pada suatu daerah. Daerah yang sudah rusak kondisi alamnya akan sulit untuk menampung curah hujan karena akan terus turun dan terbuang ke air laut, sedangkan daerah yang masih bagus akan meneruskan air ke dalam tanah dan merupakan cadangan sumber air baku yang baik.
  
            10.  Analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal)
       Dalam prosesnya IPA banyak menggunakan bahan kimia dimana selain bau juga harus dipikirkan bagaimana dengan limbah kimia yang dihasilkan sehingga tidak mengganggu ekosistem lingkungan yang ada. Bangunan IPA juga menggunakan banyak mesin-mesin seperti pompa, genset yang menimbulkan kebisingan yang sangat mengganggu bagi masyarakat disekitar bangunan. Daya listrik yang digunakanpun sangat besar. Oleh karena itu bangunan IPA merupakan bangunan vital yang semestinya dilindungi oleh negara, karena merupakan kebutuhan rakyat banyak dan tidak menutup kemungkinan terjadinya sabotase pada bangunan tersebut. Biasanya lokasi bangunan IPA jauh dari pemukiman penduduk, hal ini untuk mencegah hal-hal tersebut diatas.

     11.  Ketersediaan dana.
      Disebutkan diatas bahwa invetasi sebuah sistem penyedian air minum sangatlah besar. Studi kelayakan merupakan salah satu syarat yang digunakan untuk memperoleh dana tersebut baik dari investor, APBN, APBD maupun pihak kreditor atau bank. Dalam proposal pendanaan tersebut tercantum besarnya dana investasi, sumber pendanaan, periode pengembalian modal investasi, besarnya tarif air minum berdasar golongan, biaya konstruksi, produksi, operasional, maintenance, dlsb.

Data-data yang dibutuhkan dalam studi kelayakan diambil dari hasil survey lapangan seperti sistem penyediaan air minum existing (pipa, pompa, bangunan IPA, reservoir) sumber air baku, daya beli masyarakat, harga material bahan bangunan, daerah industry, daerah perumahan dan lain-lain. Ada juga data yang diambil dari instansi terkait seperti data curah hujan diambil dari BMG daerah, data jumlah penduduk, kondisi social ekonomi, master plan RTRW/RTRK bisa didapat dari pemerintah daerah setempat.

****
Pemilik pekerjaan (owner) dari pekerjaan studi kelayakan sistem perencanaan air bersih suatu daerah biasanya Pemerintah Daerah setempat, tetapi bisa juga dari investor yang akan menaruh dananya dalam proyek tersebut dengan biaya sendiri. Perencanaan dan studi kelayakan sebuah sistem penyediaan air minum suatu daerah sangat komplek sehingga dibutuhkan kerja tim yang terdiri dari banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu. Hasil yang baik akan diperoleh dari perencanaan yang baik.

Ref : Integrated Design Of Water Treatment Facilities by Susumu Kawamura

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar